Renungan Hari Minggu – Adharta
Tubuh dan Darah Kristus
Yohanes 6:56
SAAT AKU JALAN SENDIRI
kata-kata Yesus: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”
Kalimat ini terasa sangat dalam, bahkan dulu sempat sulit buat saya pahami.
Bagaimana mungkin Tuhan hadir begitu dekat
bukan hanya menemani, tetapi benar-benar tinggal di dalam diri kita?
Dalam pengalaman pribadi, ada masa ketika saya merasa berjalan sendiri.
Masalah datang silih berganti
pekerjaan, keluarga, bahkan pergumulan batin yang tidak bisa saya ceritakan kepada siapa pun.
Saya tetap datang ke misa, menerima Ekaristi, tetapi jujur, sering kali hanya sebagai rutinitas.
Namun suatu hari, dalam keheningan setelah komuni, saya mencoba berhenti sejenak.
Tidak berdoa panjang, hanya diam.
Saat itulah saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda
sebuah ketenangan yang tidak bisa dijelaskan.
Seolah Tuhan berkata, “Aku di sini, Aku di dalammu.”
Sejak saat itu, saya mulai mengerti bahwa Ekaristi bukan sekadar simbol, tetapi perjumpaan nyata dengan Kristus yang hidup.
Ekaristi mengubah cara saya memandang hidup.
Saya belajar bahwa kekuatan bukan datang dari diri sendiri, tetapi dari Tuhan yang tinggal di dalam kita.
Ketika lemah, Dia menguatkan. Ketika gelisah, Dia menenangkan. Ketika kehilangan arah, Dia menuntun kembali.
Hari ini, saya diajak untuk tidak hanya menerima Ekaristi secara lahiriah, tetapi juga membuka hati sepenuhnya. Membiarkan Kristus benar-benar tinggal dan bekerja dalam hidup saya.
Karena ketika Dia tinggal di dalam kita, hidup kita pun perlahan berubah
menjadi lebih sabar, lebih penuh kasih, dan lebih mampu menghadapi segala keadaan.
Doaku
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau mau tinggal di dalam diriku.
Ajarlah aku untuk semakin menyadari kehadiran-Mu, terutama dalam Ekaristi.
Kuatkan aku dalam setiap langkah hidupku, agar aku pun mampu menjadi saksi kasih-Mu bagi sesama.
Selamat hari minggu
Adharta

